Senin, 16 Januari 2012

Urgensi Jihad Dalam Penegakan Syariat 2 (selesai)


V. TUJUAN JIHAD FIE SABILILLAH

Jihad adalah salah satu kewajiban dari kewajiban-kewajiban di dalam Islam, ia ditegakkan sampai hari kiamat, kaum muslimin diwajibkan menegakkannya agar supaya tertegak amanah yang dibebankan Allah kepada manusia di muka bumi ini, dan jihad ini tidak akan berhenti kecuali setelah Islam tersebar diseluruh penjuru dunia, tertegaklah keamanan, ketenangan serta keselamatan atau sampai habisnya kehidupan ini. Karena jihad itu paling tingginya tingkatan amal.



Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Kepala segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah sholat dan puncaknya adalah Jihad”. [ HR. Tirmidzi]

Adapun tujuan dasar dari jihad fie sabilillah adalah : “Menghambakan manusia hanya kepada Allah semata dan mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada hamba dibawa kepada penghambaan kepada Robbul ‘Ibad. Menghilangkan seluruh bentuk thoghut dari muka bumi ini dan membersihkan alam ini dari kerusakan”. Sebagaimana disebutkan oleh Ust. Assyahid Sayid Qutb dalam kitabnya “Hadzaddien : 15. [ Al Jihad Wal Ijtihad. Umar bin Mahmud Abu Umar : 6]
Allah berfirman dalam hadits qudsy : Artinya : “Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-Ku itu lurus semuanya, kemudian syaitan datang kepada mereka, lalu syaitan menyelewengkan mereka dari Dien mereka, lalu syaitan mengharamkan atas mereka sesuatu yang telah Aku halalkan bagi mereka, syaitanpun memerintahkan mereka untuk mensekutukan Aku, padahal Aku belum menurunkan pada syaitan itu kekuasaan …..”[ Shohih Muslim : 17/197. Ahammiyatul Jihad : 158]
Adapun dalil dari tujuan jihad adalah.

“Dan perangilah mereka, sehingga tidak ada fitnah lagi dan Dien ini hanya untuk Allah”.(QS. Al Baqoroh : 193).

Adapun tujuan jihad fie sabilillah adalah :

1. Mencari keridhoan Allah Ta’ala
2. Untuk menegakkan dakwah Islam

Agar risalah Islam bisa tersebar ke seluruh penjuru bumi tanpa ada hambatan atau rintangan apapun yang bisa menghalangi antara da’i dan mad’u, sama saja apakah rintangan-ringatangan itu berupa ideologi, politik atau militer, dan untuk melindungi kaum muslimin agar tidak disiksa dan palingkan dari Dien mereka, atau diancam keselamatan, kehormatan, harta dan akan fikirannya.
Allah berfirman : “Katakanlah (hai Muhammad) : “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua. Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada Ilah kecuali hanya Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab) dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk”. (QS. Al A’rof : 158).
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada ummat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengerti”. (QS. Saba’ : 28)
“Hai Rosul. Sampaikanlah apa yang diturunkan dari Robmu. Dan jika kamu tidak kerjakan (apa yang diperintahkan itu, (berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjk kepada orang-orang kafir”.(QS. Al Maidah : 67)

Jalan yang ditempuh untuk merealisir hal tersebut adalah dengan kekuatan dakwah yang penyiarannya disertai dengan kekuatan tangan dan anggota badan, ketajaman pedang dan tombak.

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Saya diperintah memerangi manusia sampai mereka bersyahadat bahwa tidak ada Ilah kecual hanya Allah dan bahwasanya aku adalah utusan Allah. Apabila mereka mengucapkannya, maka amanlah dariku darah-darah mereka dan harta-harta mereka kecuali dengan haknya. Adapun hisabnya terserah Allah”. [ HR. Bukhori dan Muslim. Mutawatir Shohih.]

3. Untuk mengokohkan (memberikan kekuasaan) kaum muslimin di permukaan bumi, dan menerapkan hukum Allah di dalamnya.

Islam datang untuk menghentikan kerusakan dan kesewenang-wenangan manusia dan mengikis kesyirikan serta kekafiran sampai ke akar-akarnya, serta membasmi tuhan-tuhan palsu, baik yang berbentuk matahari atau bulan, pohon, batu, binatang ataupun manusia.

Allah berfirman menerangkan keadaan penguasa-penguasa thoghut beserta pengikutnya pada hari kiamat : “(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa, dan (ketika) segala hubungan antara merka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti : “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami”. Demikianlah Allah memperlihatkan kepda mereka amal perbuatannya menjadi penyesalan bagi mereka, dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka”. (QS. Al Baqoroh : 166-167)

“Katakanlah : “Hai ahli kitab, kemarilah kepada kalimat yang sama, yang tiada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah keculi Allah dan kita tidak persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain daripada Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka : “Saksikanlah ! bahwa kami adalah orang-oang yang menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Ali Imron : 64).

Oleh karena itu kepala-kepala mereka yang keras membatu harus dipecahkan, singgasana dan tahta mereka mereka yang tidak sah harus ditumbangkan, dan hukum-hukum merka yagn dholim serta menyimpang harus diganti. Kapan dan dimanapun ditemukan dan kemudian tegakkanlah sebagai gantinya syri’at Allah ‘Azza wajalla melaui tangan-tangan hamba-Nya yang beriman.

4. Ujian dari Allah untuk menyaring orang-orang beriman

Dengan jihad akan nampaklah orang mukmin yagn benar dari orang mukmin munafik yang dusta, dan kelihatan jelaslah pemberani yang gagah dari penakut, dan agar muncul bakat-bakat perang, kelihaian militer, kecakapan-kecakapan, kemampuan-kemampuan, potensi-potensi lain yang belum mendapatkan kesempatan serta peluang ntuk menunjukkan eksistensinya dan membuktikan jati diri mereka yang ebenarnya. Apabila pecah jihadh, mak menyamburlah sumber-sumber dan kehidupan. Allah berfirman :
“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu), jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merkapun merasakan kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderita, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yagn tidak mereka harapkan.dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Annisa’ : 104).
“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tangamu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. Dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, rosul-Nya dan orang-orang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Attaubah : 14-16).

5. Diibadahinya Allah dan tidak disekutukan

6. Dicegahnya kedzoliman dan berbagai macam bentuknya

7. Menjadikan dakwah lebih massiv dan tidak stagnan (berjalan ditempat).

8. Terjaganya kaum muslimin dari bersendau gurau dalam urusan diantara mereka. (seperti menunaikan zakat dan syari’at lainnya. [Attarikh al Islami Mahmud Syakir : 9/156-162]

9. Menolak pelampauan batas orang-orang yang berlaku melampaui batas terhadap orang Islam
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak suka orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al Baqoroh : 190)
10. Menghilangkan fitnah dari manusia sampai mendengarkan dalil-dalil tauhid dari selain orang yang onar dan sampai mereka melihat undang-undang Islam itu relevan, agar supaya mereka mengerti (bahwa isi UUD) itu keadilan dan demi kemaslahatan manusia

11. Menjaga negara Islam dari kejahatan orang-orang kafir

Assyahid Sayyid Qutb berkata : “Sebenarnya menjaga negara Islam itu (termasuk) menjaga aqidah dan manhaj, serta masyarakat yang berpijak diatas manhaj tersebut, akan tetapi menjaga negara Islam itu bukan sasaran klimak dan bukan pula tujuan akhir bagi harokah jihadiyah Al Islamy. Hanyasanya penjagaan terhadap negara Islam merupakan wasilah untuk tegaknya kekuasaan Allah di dalamnya. Kemudian janganlah kamu menjadikannya sebagai dasar berpijak ke bumi dan kepada beragamnya manusia secara keseluruhan, karena beragamnya manusia itu merupakan dasar (fitrah) Dien di bumi ini, adapun bumi adalah tempatnya yang besar”. [Tafsir Fie Dzilalil Qur’an : 3/1441]

12. Membunuh orang-orang kafir.

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh bebaskan mereka atau menerima tebusan sampai berhenti perang…”.(QS. Muhammad : 4).

13. Menakut-nakuti orang kafir dan melemahkan merka serta menghinakan mereka.

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang akamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuh kamu dan orang-orang selain yang kamu tidak mengetahuinya…….”. (QS. Al Anfal : 60)

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyikasa dengan (perantara) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. Dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.(QS. Attaubah : 14-15).

VI. URGENSI JIHAD DALAM PENEGAKAN SYARI’AT

Allah Subhanahu waTa’ala berfirman : “Seandainya Allah tidak menolak keganasan sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allahlah yang mempunyai karunia atas semesta alam”. (QS. Al Baqoroh : 251)

Ibnu Abbas rodhiyallaahu ‘anhu berkata : Jikalau Allah tidak menolak musuh-musuh itu dengan tentara kaum muslimin sungguh menanglah orang-orang muyrik, maka mereka pasti membunuh orang-orang mukmin dan meruntuhkan negara-negara dan masjid-masjid”. [ Tafsir Al Jamami’ Liahkamil Qur’an LilQurtubi : 3/260]
“Dan sekiranya Allah tidak menolak keganasan kaum dengan kaum yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang yahudi dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Kuasa”. (QS. Al Haj : 40).
Al Qurtubi rohimahullah berkata : “Jikalau Allah tidak mensyari’atkan kepada para Nabi dan kaum mukminin memerangi musuh-musuhnya, sungguh mereka (kaum muslimin) akan dikuasai oleh orang-orang musyrik, dan mereka (orang-orang musyrik) akan menghilangkan keterangan yang disampaikan oleh pendeta-pendeta berbagai agama dari tempat-tempat peribadahan. Akan tetapi Allah) menolak dengan (cara) mewajibkan berperang agar ahlud dien leluasa untuk beribadah. Adapun jihad itu urusan yang telah (ada) sejak pada ummat terdahulu, dan dengan jihad maka baiklah syari’at ini dan berkumpullah para ahli ibadah. Seakan-akan (Alah) berfirman : “Telah diizinkah berperang, maka hendaknya berperanglah orang-orang mukmin”, kemudian dikuatkan dengan firman Allah : “Jikalau Allah tidak menolak keganasan suatu kaum”. Maksudnya : Jikalau jihad dan qital (itu tidak ditegakkan), sungguh alhaq itu akan kalah di setiap ummat, maka barangsiapa yang mendapati orang Nasroni dan Shobi’in, (maka) jihad adalah peruntuh madzhabnya. Kalau begitu jikalau tidak ada qital (maka) dien ini tidak ada yang membela”. [ Tafsir Al Jamami’ Liahkamil Qur’an LilQurtubi : 12/70]

Syaikh assyahid DR. Abdullah Azzam berkata : “Sesungguhnya orang-orang yang mengira, bahwa Dien ini akan menang dan tegak dengan tanpa jihad, qital (perang), darah dan jiwa raga. Mereka adalah orang-orang yang bingung. Ketahuilah ! kehidupan kalian adalah jihad, kemuliaan kalian adalah dengan jihad dan exsistensi kalian itu terikat erat dengan jihad”.

Dalam kesempatan lain beliau berkata :“Sesungguhnya orang-orang yang ingin merubah (kondisi) masyarakat dengan tanpa jihad dan qital, mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti tabiat Dien ini. Ketahuilah ! kehidupan kalian adalah dengan jihad dan kemuliaan kalian itu dengan jihad”. [ Lihat dalam kitab ‘Usyaqul Hur : Syaikh abdullah Azzam]

Kalau kita mau menengok ke belakang, kepada perjalanan para ummat terdahulu yang sholih, maka kita akan dapati perjalanan kehidupan mereka dihiasi dan sarat dengan jihad, dan syari’at ini telah ditegakkan dengan tumpahan darah para syuhada’ dan melayangnya kepala para mujahidin yang perwira di medan jihad. Dari mulai perang Badar sampai pada perang-perang yang lain, dari zaman Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam sampai para shahabat, peperangan merupakan jalan yang di tempuh mereka untuk menegakkan panji-panji ini. Karena jikalau jihad ini tidak ditegakkan, maka Islam dan kaum muslimin akan dihinakan dan Allah tidak akan dijadikan satu-satunya Ilah yang ditaati dan diibadahi.

Kalau kita membaca lembaran-lembaran kitab sirah tentang perjalanan para salaful ummah dalam menegakkan Dien, maka akan kita dapati bahwa kehidupan mereka sangat erat sekali dengan jihad, sehingga rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda :”Sesungguhnya siyahah ummatku adalah Jihad fie sabilillah”. [Sunan Ibnu Majah. Bab Jihad : 383. (No. Hadits : 2486]

Perang yang terjadi awal kali pada kehidupan Rosulullah adalah perang badar, yang mana perang ini merupakan embrio tegaknya Dien ini dan terwujudnya exsistensi kaum muslimin di muka bumi ini. Karena jikalau peperangan ini kaum muslimin kalah, maka Allah tidak akan sekali-kali diibadahi. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam berdo’a saat genting dalam perang Badar :

Artinya : “Ya Allah ! Penuhilah bagiku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, sesungguhnya aku mengingatkan-Mu akan sumpah dan janji-Mu”.

Artinya : “Ya Allah ! jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi. Ya Allah ! kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah untuk selama-lamanya setelah hari ini”. [Arrohiqul Makhtum. Syaikh Shofiyyur Rohman Mubarokfuri : 197]

Ini menunjukkan bagaimana urgennya jihad dalam penegakan Dien dan penjagaannya. Dengan itu Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Kepala urusan ini adalah Islam, dan tiangnya adalah sholat dan puncak (dari segala amal) adalah jihad”. [HR. Tirmidzi]

Penegakan syariat sangat erat sekali hubungannya dengan penegakan ” lailaaha illalaahu’ di muka bumi ini. Karena inti sari penegakan syari’at adalah bagaimana Allah menjadi satu-satunya Ilah yang ditaati dan ditunduki segala perntah-Nya dan ditinggalkan seluruh larangan-Nya.

Dalam rangka mewujudkan ini pula tentara Islam bertolak dari Madinah ke seluruh penjuru Jazirah Arab, kemudian ke negeri-negeri Persia dan Romawi. Exspedisi pasukan itu dikirim dari seluruh ibu kota kekholifahan – yang berpindah selama tiga belas abad dari Madinah ke Damsyik, ke Baghdad, kemudian ke Kairo, dan terakhir ke Konstantinopel – dan pasukan-pasukan kebenaran berlalu terus membawa bendera Islam melewati berbagai sudut bumi.

Sungguh, sasaran dakwah kaum muslimin selama pengembaraan dakwah ini hanyalah satu : Sasaran dakwah Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam di Makkah sama dengan sasaran dakwah beliau ketika menghancurkan berhala-berhala di Makkah, dan sama juga dengan sasaran yang dituju ketika mengirim tentara merambah bumi.

Dengan ungkapan yang indah Rabi’ bin amir, seorang prajurit kavaleri muslim, berbicara tentang sasaran ini ketika ditanya oleh Rustum, panglima Persia, “Apa yang mendorong kalian datang di sini” ? Rabi’ menjawab: “Sesungguhnya Allah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja diantara manusia yang menghendaki, dari pengabdian kepada sesama hamba menuju pengabdian kepada Robbul ibad, dari kezaliman agama-agama kepada keadilan Islam, dan dari kesempitan dunia kepada kelapangan akhirat”. [Ikrar perjuangan Islam. DR Najih Ibrahim.’Ashim Abdul Majid.Ishomuddin Darbalah : 144]

Syaikh Abdullah Azzam mengungkapkan tentang penegakan jihad dalam penyebaran tauhid : “Tauhid tidak akan mungkin mapan dipermukaan bumi tanpa perantaraan pedang. Orang-orang yang hendak menyebarkan tauhid di permukaan bumi, maka mereka harus mengangkat pedang. Orang-orang yang hendak mensucikan aqidah manusia, maka mereka harus membawa senapan dan turun bersama orang-orang Afganistan. Dan jalan inilah, segala bid’ah dapat diberantas. Dengan jalan inilah hijab dan syi’ar agama yang lain akan tetap wujud. Dengan jalan inilah, manusia mengenal Rob mereka. Dengan jalan inilah kalian akan mengenal sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari ciptaan-Nya, di atas langit yang ke tujuh. Dan sesungguhnya Allah mempunyai tangan, dan tangan Allah itu bukan qudroh/kekuasaan-Nya. Istiwa’ (bersemayamnya Allah) itu maklum (diketahui), bagaimana istiwa’nya Allah itu majhul (tidak diketahui), mengimaninya adalah wajib dan menanyakannya adalah bid’ah. Itu benar itu adalah aqidah kita dan aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. Dan ini adalah aqidah Abu hanifah. Dalam kitab fiqh akbar beliau menegaskan : “Allah mempunyai tangan, tapi kami tidak mengatakan bahwa tangan Allah adalah qudroh-Nya. Karena mengatakan seprti itu adalah takwil (interpretasi). Sedangkan takwil itu serupa dengan ta’til (meniadakan).

Kita mempercayai dan meyakini aqidah ini, akan tetapi bagaimana cara kita menyebarkannya kepada ummat manusia? Cara menyebarkannya tiada lain ialah dengan pedang, sehingga hanya Allah sajalah yang disembah dimuka bumi ini, dan tiada lagi sekutu bagi-Nya. Inilah yang dinamakan tauhid Uluhiyyah. “Dan dijadikan rizkiku berada di bawah bayangan tombakku”.

Rizki dan tombak. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengungkapkannya dengan tombak, oleh karena tombak lebih panjang dari pedang. Adapun pengertian rizki itu sangat luas.

“Dan dijadikan hina dan rendah orang-orang yang menyelisihi urusanku”.

Maksudnya ialah : Yang meninggalkan jihad, pedang dan tombak. Orang yang seperti ini akan direndahkan dan dihinakan.

“Barangsiapa menyerupakan dirinya dengan suatu kaum, maka dia tergolong diantara mereka”.

Serupa dalam hal ini ? yakni cinta dunia dan benci mati. Karena itu, kami tidak merasa bimbang ataupun malu untuk menerangkan aqidah ini, aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. Yakni : Jihad itu akan tetap terus berlanjut sampaihari kiamat. Tidak dapat dihentikan oleh penyimangan orang yang lalim maupun keadilan orang yang adil”…… habis perkataan assyahid. [Terjemahan Tarbiyah Jihadiyah. 2/74-76. Al Alaq. Cetakan kedua. April 1995]

Beliau Assyahid Abdullah Azzam juga menyindir orang-orang malas berjihad : “Memperbaiki diri hanya dengan santai-santai, duduk-duduk du masjid, menikmati wewangian, serta memberati perasaan, lalu puas dengan hal-hal yang demikian namun malas dan enggan berjihad fie sabilillah merupakan senda gurau dan main-main bahkan mempermainkan agama Allah. Padahal kita diperintahkan berpaling menjauhi mereka, sesuai dengan firman Allah : “Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia”. (QS. Al an’am : 70)

Berhayal dengan angan-angan indah tanpa mempersiapkan diri guna meraihnya adalah kondisi jiwa yang kerdil yang tiada punya semangat merengkuh puncak gunung dan terbang menggapai bintang-bintang. [Terjemahan dari kitab Wasyiyyah syaikh DR abdullah Azzam : 20-21. (Pustaka Amanah. Cet. Ke-tiga. 8-1997)]

Para Ahli Ushul Fiqh menyatakan :

“Jihad itu adalah dakwah dengan kekuatan, oleh sebab itu wajib pelaksanaannya dengan sekuat tenaga sehingga di dunia ini hanya ada muslim atau orang-orang kafir yang mau menyerah kepada pemerintahan Islam dengan membayar jizyah (pajak) kepada pemerintah tersebut”. [Membela tanah air ummat Islam. DR. Abdullah Azzam : 27. (Pustaka Majdi. Cet. Pertama.1-1992)]

Beliau menyampaikan lagi : “Wahai saudara-saudaraku sekalian! Dengan jihadlah kemuliaan kita, dengan jihadlah kita menjaga kebersihan kita, dengan jihadlah kita mengambil hak kita, dan tanpa jihadlah maka kita tidak mempunyai harga diri di dunia dan exsistensi di akhirat kelak”.

Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadan menganiaya diri. (Kepada mereka) malaikat bertanya : Dalam keadaan bagaimana kamu ini ? mereka menjawab : Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri. Para malaikat berkata : Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu ? orang-orang itu tempatnya neraka jahannam. Dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun”. (QS. Annisa’ : 97-99). [ Attarbiyyah Al Jihadiyyah Wal bina’. DR. Abdullah Azzam. 11/125. (arabnya. Cet. 1991 M)]

Beliau mengungkapkan lagi : “Jihad itu adalah perisai ummat yang kokoh dan tameng yang kuat. Yang melindungi agama Allah di zaman ini dan disetiap zaman sampai hari kiamat, tidak mungkin suatu prinsip ideologi bisa tegak, kebenaran dapat menang, dan nilai-nilai agama bisa tegak di atas landasannya kecuali jika jihad itu wujud adanya, mustahil suatu prinsip itu bisa menang kecuali dengan perang.

Karena itu tugas para nabi dan rosul di dunia sangat sulit, kewajiban mereka sangat sukar, karena tegaknya ideologi mesti diperjuangkan dengan peperangan demi kemenangannya. Firman Allah :

“Maka mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rosul-Nya dengan membawa petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkankan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai”.(QS. Attaubah : 33).

Dua ayat ini datang di dua tempat dalam Al Qur’an yang menyebutkan qital. Yakni mengenai menyebarkan agama Islam di muka bumi dan kemenangan segala ideologi dan agama yang ada. Lalu di surat Attaubah : 29-32. Asshof : 4. 8. 10-11.

Jihadlah yang menjamin tersebarnya agama ini. Tanpa jihad, tanpa pedang maka tidak akan mungkin bagi agama ini mendapatkan kedudukan di muka bumi. Oleh karenanya, tidak akan mungkin dapat dibendung kekuatan orang-orang kafir itu kecuali dengan perang. Jika tidak ada peperangan, maka syirik akan menginjak-injak bumi. “Dan perangilah mereka !”. kenapa ? “Sampai tidak ada finah”, sehingga tidak ada syirik (fitnah itu syirik). “Sehingga agama itu semata-mata bagi Allah”. Artinya perang itu akan tetap tarus berlanjut sampai hari kiamat, sehingga permukaan bumi seluruhnya menjadi Islam.

“Sungguh perkara (agama) ini akan sampai jauh apa yang telah dilalui oleh malam dan siang. Tak tertinggal sebuah rumah di kota maupun di desa (sama saja apakah rumah itu di desa atau di kota, rumah dari tanah atau dari batu atau kemah. Karena orang-orang Badui disebut sebagai Ahlul Wabr, yang hidupnya tidak menetap dan Ahlul Mal, pengembala onta, orang-orang yang menetap tinggal disebut Ahlul Madar, penduduk kota atau desa), kecuali Allah akan memasukkan agama ini ke dalamnya dengan kemuliaan orang yang mulia atau dengan menghinakan orang yang hina. Kemuliaan yang akan menguatkan agama Allah dan kehinaan yang akan menghinakan orang-orang kafir”.Hadits ini shohih. Diriwayatkan oleh Ahmad, Addarimi serta yang lain.

“Maka berperanglah kamu di jalan Allah, sebab tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri …..

kenapa harus berperang ?

“Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksa-Nya”. (QS. Annisa’ : 84)

Tidak dapat ditolak kekuatan orang-orang kafir kecuali dengan perang, kecuali dengan perang dan menggelorakan semangat kaum muslimin untuk berperang. [Terjemahan Tarbiyah Jihadiyah. 2/59-63.(Al alaq. Cet. Kedua. April-1995)]

VII. PENUTUP

Alhamdulillah. Dengan izin Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Telah selesailah makalah ilmiyah ini. Semoga makalah ini berguna bagi saya pribadi dan bagi kaum muslimin pada umumnya. Jikalau ada kekurangan dan kesalahan itu datangnya dari saya dan dari syaitan, dan jika ada kebenaran itu datangnya dari Allah yang harus kita ikuti. Saya pribadi mengharap saran dan kritik dari para pembaca makalah ini jikalau ada kekurangan atau kesalahannya. Atas perhatiannya saya ucapkan Jazakumullah khoiro.

VIII. DAFTAR PUSTAKA

1. Membela tanah air ummat Islam. DR. Abdullah Azzam Pustaka Majdi. Cet. Pertama.1-1992
2. Attarbiyyah Al Jihadiyyah Wal bina’. DR. Abdullah Azzam.. (arabnya. Cet. 1991 M)
3. Ikrar perjuangan Islam. DR Najih Ibrahim.’Ashim Abdul Majid.Ishomuddin Darbalah
4. Terjemahan Tarbiyah Jihadiyah.. Al Alaq. Cetakan kedua. April 1995
5. Terjemahan dari kitab Wasyiyyah syaikh DR abdullah Azzam : 20-21. (Pustaka Amanah. Cet. Ke-tiga. 8-1997)
6. Tafsir Al Jamami’ Liahkamil Qur’an LilQurtubi
7. ‘Usyaqul Hur : Syaikh abdullah Azzam
8. Sunan Ibnu Majah
9. Arrohiqul Makhtum. Syaikh Shofiyyur Rohman Mubarokfuri
10. Attarikh al Islami Mahmud Syakir
11. Tarsir Fie Dzilalil Qur’an
12. Tafsir Qur’anul ‘Adzim Ibnu Katsir
13. Kitab Ahkamul Qur’an, Assyafi’I
14. Al Jawab As Shohihah Liman Badala Dienil Masih.
15. Asshiroh Annabawiyyah Ibnu Katsir
16. Musnad Imam Ahmad Ibnu Hambal.
17. Tafsir Atthobari
18. Aljihadu Sabiluna : Abdul Baqi Romdhon
19. Hukmul jihad wabayanuhu, fadzluhu wafadzlus syahadah warribat : Ibrahim bin abdurrohim Al Hudri
20. Ahammiyatul jihad fie nasyrid da’wah Al Islamiyyah warroddi ‘ala thowaif adhdhoollah fiehi
21. Fadhlul Jihad Wal Mujahidin : Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz
22. Lisanul ‘Arob Ibnu Mandzur
23. Fathul bari
24. Irsyadus Sari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar