Dr. Abdullah Yusuf Azzam (1941–1989), juga dikenal dengan nama
Syekh Azzam, adalah seorang figur utama dalam perkembangan pergerakan
Islam.
"Ratusan
tulisan dan pidatonya mampu menghidupkan ruh baru dalam diri ummat. Seolah-olah
beliau dipilih Allah SWT untuk menegakkan kembali kewajiban yang telah
dilupakan sebagian besar ummat Islam, yaitu jihad." Demikian komentar DR.
Dahba Zahely, cendekiawan Muslim Malaysia tentang DR Abdullah Azzam. Komentar
senada juga datang dari cendekiawan dan ulama dari berbagai negara.
Pendidikan dan
Masa Muda
Syekh Azzam lahir
pada tahun 1941 di desa As-ba'ah Al-Hartiyeh, provinsi Jenin di sebelah barat
Sungai Yordan. Setelah menamatkan pendidikan dasar dan lanjutan di desanya, dia
melanjutkan ke Khadorri College di dekat kota Tulkarem dan mengambil jurusan
pertanian. Setelah wisuda Syekh Azzam bekerja sebagai seorang guru di desa
Adder, Yordania. Kemudian ia di Sharia College pada Universitas Damaskus di
mana ia memperoleh gelar B.A. pada tahun 1966. Setelah tahun 1967 pada Perang
Enam Hari dan Israel menduduki Tepi Barat, Syekh Azzam pindah ke Yordania dan
bergabung dengan Ikhwanul Muslimin Palestina.
Shaikh Azzam pergi
ke Mesir untuk melanjutkan studi Islam di Universitas Al-Azhar Kairo dan
mendapat gelar master di bidang syariah. Ia kembali mengajar pada Universitas
Jordan di Amman dan pada tahun 1971, Syekh Azzam kembali ke Universitas
Al-Azhar dan memperoleh Ph.D dalam bidang Ushul Fiqh pada tahun 1973.
Salah
Seorang Tokoh Penggerak Jihad
Pada tahun 1980 ia
pindah ke Peshawar. Di sana ia mendirikan Baitul Anshar, sebuah lembaga yang
menghimpun bantuan untuk para mujahid Afghan. Ia juga menerbitkan sebuah media
Ummah Islam. Lewat majalah inilah ia menggedor kesadaran ummat tentang jihad.
Katanya, jihad di Afghan adalah tuntutan Islam dan menjadi tanggung jawab ummat
Islam di seluruh dunia. Seruannya itu tidak sia-sia. Jihad di Afghan berubah
menjadi jihad universal yang diikuti oleh seluruh ummat Islam di pelosok dunia.
Pemuda-pemuda Islam dari seluruh dunia yang terpanggil oleh fatwa-fatwa
Abdullah Azzam, bergabung dengan para mujahidin Afghan.
Jihad di Afghanistan
telah menjadikan Abdullah Azzam sebagai tokoh pergerakan jihad zaman ini. Ia
menjadi idola para mujahid muda. Peranannya mengubah pemikiran ummat Islam akan
pentingnya jihad di Afghanistan telah membuahkan hasil yang sangat mengagumkan.
Uni Sovyet sebagai negara Adidaya harus pulang dengan rasa malu, karena tidak
berhasil menduduki Afghanistan.
Abdullah Azzam
telah berhasil meletakkan pondasi jihad di hati kaum muslimin. Penghargaannya
terhadap jihad sangat besar. "Aku rasa seperti baru berusia 9 tahun, 7
setengah tahun jihad di Afghan, 1 setengah tahun jihad di Palestina dan
tahun-tahun yang selebihnya tidak bernilai apa-apa," katanya pada suatu
ketika. Ia juga mengajak keluarganya memahami dan memiliki semangat yang sama
dengan dirinya. Isterinya menjadi pengasuh anak-anak yatim dan pekerja sosial
di Afghanistan.
Komitmen Abdullah
Azzam terhadap Islam sangat tinggi. Jihad sudah menjadi filosofi hidupnya.
Sampai akhir hayatnya, ia tetap menolak tawaran mengajar di beberapa
universitas. Ia berjanji terus berjihad sampat titik darah penghabisan. Mati
sebagai mujahid itulah cita-citanya. Wajar kalau kemudian pada masa hidupnya
dialah tokoh rujukan ummat dalam hal jihad. Fatwa-fatwanya tentang jihad selalu
dinanti-nantikan kaum muslimin.
Wafatnya
Beberapa kali
Abdullah Azzam menerima cobaan pembunuhan. Sampai akhirnya ia dibunuh pada hari
Jumat, 24 November 1989. Tiga buah bom yang sengaja dipasang di gang yang biasa
di lewati Abdullah Azzam, meledak ketika ia memarkir kendaraan untuk salat
Jumat di peshawar, Pakistan. Sheikh Abdullah bersama dua orang anak lelakinya,
Muhammad dan Ibrahim, meninggal seketika. Kendaraan Abdullah Azzam hancur
berantakan. Anaknya, Ibrahim, terlempar 100 meter begitu juga dengan lainnya.
Tubuh mereka juga hancur. Dalam peristiwa itu juga terbunuh anak lelaki
almarhum Sheikh Tamim Adnani (seorang perwira di Afghan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar