Senin, 25 Juni 2012

Mujahid Muda


Ibnul Jauzi dalam Shifatus Shofwah (1/460) dan Ibnun Nahhas dalam  Masyariqul ‘Asywaq mengisahkan dari seorang yang shalih yang bernama Abu  Qudamah asy-Syami.

“Suatu ketika aku berangkat bersama beberapa sahabatku untuk  memerangi kaum Salibis di beberapa pos penjagaan dekat perbatasan. Dalam  perjalanan itu aku melalui kota Raqqah (sebuah kota di Irak, dekat  sungai Eufrat). Di sana aku membeli seekor unta yang akan kugunakan  untuk membawa persenjataanku. Di samping itu aku mengajak warga kota  lewat masjid-masjid, untuk ikut serta dalam jihad dan berinfak jihad  fisabilillah.


Menjelang malam harinya, ada orang yang mengetuk pintu. Tatkala  kubukakan, ternyata ada seorang wanita yang menutupi wajahnya dengan  gaunnya.

“Apa yang Anda inginkan?” tanyaku.
“Andakah yang bernama Abu Qudamah?” katanya balik bertanya.
“Benar,” kataku.
“Andakah yang hari ini yang mengumpulkan dana untuk membantu jihad di perbatasan?” tanyanya kembali.
“Ya, benar,” jawabku.

Maka wanita itu menyerahkan secarik kertas dan sebuah bungkusan terikat, kemudian berpaling sambil menangis.
Pada kertas itu tertulis, “Anda mengajak kami untuk ikut berjihad,  namun aku tak sanggup untuk itu. Maka kupotong dua buah kuncir  kesayanganku agar Anda jadikan sebagai tali kuda Anda. Kuharap bila  Allah melihatnya pada kuda Anda dalam jihad, Dia mengampuni dosaku  karenanya.”

Ibnul Jauzi dalam komentarnya mengatakan, “Wanita ini niatnya baik,  namun caranya keliru karena ia tidak tahu bahwa perbuatannya itu – yakni  memotong kucirnya – terlarang, karenanya dalam hal ini kita hanya  menyoroti niatnya saja.” (Shifatus Shafwah, 1/459)

“Demi Allah, aku kagum atas semangat dan kegigihannya untuk ikut  berjihad, demikian pula dengan kerinduannya untuk mendapat ampunan Allah  dan Surga-Nya.” Kata Abu Qudamah.

Keesokan harinya, aku bersana sahabatku beranjak meninggalkan  Raqqah. Tatkala kami tiba di benteng Maslamah bin Abdul Malik, tiba-tiba  dari belakang ada seorang penunggan kuda yang memanggil-manggil,
“Hai Abu Qudamah.. hai Abu Qudamah.. tunggulah sebentar, semoga Allah merahmatimu,” teriak orang itu.
“Kalian berangkat saja duluan, biar aku yang mencari tahu tentang orang ini,” perintahku pada para sahabatku.

Ketika aku hendak menyapanya, orang itu mendahuluiku dan mengatakan,
“Segala puji bagi Allah yang mengizinkanku untuk ikut bersamamu dan tidak menolak keikutsertaanku.”
“Apa yang kau inginkan?” tanyaku.
“Aku ingin ikut bersamamu memerangi orang-orang kafir,” jawabnya.
“Perlihatkan wajahmu, aku ingin lihat, kalau engkau memang cukup  dewasa dan wajib berjihad, akan aku terima. Namun jika masih kecil dan  tidak wajib berjihad, terpaksa kutolak.” Kataku.

Ketika ia menyingkap wajahnya, tampaklah olehku wajah yang putih  bersinar bak bulan purnama. Ternyata ia masih muda belia, dan umurnya  baru 17 tahun.
“Wahai anakku, apakah kamu memiliki ayah?” tanyaku.
“Ayah terbunuh di tangan kaum Salibis dan aku ingin ikut bersamamu untuk memerangi orang-orang yang membunuh ayahku,” tanyaku.
“Bagaimana dengan ibumu, masih hidupkah dia?” tanyaku lagi.
“Ya,” jawabnya.
“Kembalilah ke ibumu dan rawatlah ia baik-baik, karena surga ada di bawah telapak kakinya,” pintaku kepadanya.
“Kau tak kenal ibuku?” tanyanya.
“Tidak,” jawabku.
“Ibuku ialah pemilik titipan itu,” katanya.
“Titipan yang mana?” tanyaku.
“Dialah yang menitipkan tali kuda itu,” jawabnya.
“Tali kuda yang mana?” tanyaku keheranan.
“Subhanallah..!! Alangkah pelupanya Anda ini, tidak ingatkah Anda  dengan wanita yang datang tadi malam menyerahkan seutas tali kuda dan  bingkisan?”
“Ya, aku ingat,” jawabku.
“Dialah ibuku! Dia menyuruhku untuk berjihad bersamamu dan mengambil sumpah dariku supaya aku tidak kembali lagi,” katanya.
“Ibuku berkata, “Wahai anakku, jika kamu telah berhadapan dengan  musuh, maka janganlah kamu melarikan diri. Persembahkanlah jiwamu untuk  Allah. Mintalah kedudukan di sisi-Nya, dan mintalah agar engkau  ditempatkan bersama ayah dan paman-pamanmu di Jannah. Jika Allah  mengaruniaimu mati syahid, maka mintalah syafa’at bagiku.”
Kemudian ibu memelukku, lalu menengadahkan kepalanya ke langit  seraya berkata, “Ya Allah.. ya Ilahi.. inilah putraku, buah hati dan  belahan jiwaku, kupersembahkan ia untukmu, maka dekatkanlah ia dengan  ayahnya.”

“Aku benar-benar takjub dengan anak ini,” kata Abu Qudamah, lalu anak itupun segera menyela,
“Karenanya, kumohon atas nama Allah, janganlah kau halangi aku untuk  berjihad bersamamu. Insya Allah akulah asy-syahid putra asy-syahid. Aku  telah hafal al-Quran. Aku juga jago menunggang kuda dan memanah. Maka  janganlah meremehkanku karena usiaku yang masih belia,” kata anak itu  memelas.

Setelah mendengar uraiannya aku tak kuasa melarangnya, maka kusertakanlah ia bersamaku.
Demi Allah, ternyata tak pernah kulihat orang yang lebih cekatan  darinya. Ketika pasukan bergerak, dialah yang tercepat, ketika kami  singgah untuk beristirahat, dialah yang paling sibuk mengurus kami,  sedang lisannya tak pernah berhenti dari dzikrullah sama sekali.

sampai tibanya di medan perang, Aku pun terus mengikuti dan  memperhatikan gerak-geriknya, lalu tampaklah olehku bahwa ia berada di  barisan terdepan. Maka segera kukejar dia, kusibak barisan demi barisan  hingga sampai kepadanya, kemudian aku berkata,
“Wahai anakku, adakah engkau memiliki pengalaman berperang..?”
“Tidak.. tidak pernah. Ini justru pertempuranku yang pertama kali melawan orang kafir,” jawab si bocah.
“Wahai anakku, sesungguhnya perkara ini tak segampang yang kau  bayangkan, ini adalah peperangan. Sebuah pertumpahan darah di tengah  gemerincingnya pedang, ringkikan kuda, dan hujan panah.
Wahai anakku, sebaiknya engkau ambil posisi di belakang saja. Jika  kita menang kaupun ikut menang, namun jika kita kalah kau tak jadi  korban pertama,” pintaku kepadanya.
Lalu dengan tatapan penuh keheranan ia berkata, “Paman, engkau berkata seperti itu kepadaku..!?”
“Ya, aku mengatakan seperti itu kepadamu,” jawabku.
“Paman.. apa engkau menginginkanku jadi penghuni neraka..?” tanyanya.
“A’udzubillah!! Sungguh, bukan begitu.. kita semua tidak berada di  medan jihad seperti ini kecuali karena lari dari neraka dan memburu  surga,” jawabku.
Lalu kata sibocah, “Sesungguhnya Allah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan  orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu  membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka  (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau  hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya  orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya  ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS.  Al-Anfal: 15-16)
“Adakah Paman menginginkan aku berpaling membelakangi mereka sehingga tampat kembaliku adalah neraka?” tanya si bocah.
Aku pun heran dengan kegigihannya dan sikapnya yang memegang teguh  ayat tersebut. Kemudian aku berusaha menjelaskan, “Wahai anakku, ayat  itu maksudnya bukan seperti yang kau katakan.” Namun tetap saja ia  bersikeras tak mau pindah ke belakang. Aku pun menarik tangannya secara  paksa, membawa ke akhir barisan. Namun ia justru menarik lengannya  kembali seakan ingin melepaskan diri dari genggamanku. Lalu perang pun  dimulai dan aku terhalangi oleh pasukan berkuda darinya.

sampai perang pun berakhir, Aku pun mulai mencarinya di tengah para  korban, aku menoleh ke kanan dan ke kiri kalau-kalau ia terlihat olehku.  Di saat itulah aku mendengar suara lirih di belakangku yang mengatakan,  “Saudara-saudara.. tolong panggilkan pamanku Abu Qudamah kemari  panggilkan Abu Qudamah kemari.”
Aku menoleh ke arah suara tadi, ternyata tubuh itu ialah tubuh si  bocah dan ternyata puluhan tombak telah menusuk tubuhnya. Ia babak belur  terinjak pasukan berkuda. Dari mulutnya keluar darah segar. Dagingnya  tercabik-cabik dan tulangnya remuk total.
Ia tergeletak seorang diri di tengah padang pasir. Maka aku segera bersimpuh di hadapannya dan berteriak sekuat tenagaku,
“Akulah Abu Qudamah..!! Aku ada di sampingmu..!!”
“Segala puji bagi Allah yang masih menghidupkanku hingga aku dapat  berwasiat kepadamu.. maka dengarlah baik-baik wasiatku ini..!” kata si  bocah.

Abu Qudamah mengatakan, sungguh demi Allah, tak kuasa menahan  tangisku. Aku teringat akan segala kebaikannya, sekaligus sedih akan  ibunya yang tinggal di Raqqah. Tahun lalu ia dikejutkan dengan kematian  suami dan saudara-saudaranya, lalu sekarang dikejutkan dengan kematian  anaknya.
Aku menyingsingkan sebagian kainku lalu mengusap darah yang menutupi  wajah polos itu. Ketika ia merasakan sentuhanku ia berkata, “Paman..  usaplah darah dengan pakaianku, dan jangan kau usap dengan pakaianmu.”

Demi Allah, aku tak kuasa menahan tangisku dan tak tahu harus  berbuat apa. Sesaat kemudian, bocah itu berkata dengan suara lirih,  “Paman.. berjanjilah bahwa sepeninggalku nanti kau akan kembali ke  Raqqah, dan memberi kabar gembira bagi ibuku bahwa Allah telah menerima  hadiahnya, dan bahwa anaknya telah gugur di jalan Allah dalam keadaan  maju dan pantang mundur. Sampaikan pula padanya jikalau Allah  menakdirkanku sebagai syuhada, akan kusampaikan salamnya untuk ayah dan  paman-pamanku di Jannah.

Paman.. aku khawatir kalau nanti ibu tak mempercayai ucapanmu. Maka  ambillah pakaianku yang berlumuran darah ini, karena bila ibu melihatnya  ia akan yakin bahwa aku telah terbunuh, dan Insya Allah kami bertemu  kembali di Jannah.
Paman.. setibanya engkau di rumahku, akan kau dapati seorang gadis  kecil berumur sembilan tahun. Ia adalah saudariku.. tak pernah aku masuk  rumah kecuali ia sambut dengan keceriaan, dan tak pernah aku pergi  kecuali diiringi isak tangis dan kesedihannya. Ia sedemikian kaget  ketika mendengar kematian ayah tahun lalu, dan sekarang ia akan kaget  mendengar kematianku.
Ketika melihatku mengenakan pakaian safar ia berkata dengan berat  hati, “Kak.. jangan kau tinggalkan kami lama-lama.. segeralah  pulang..!!”
Paman.. jika engkau bertemu dengannya maka hiburlah hatinya dengan  kata-kata manis. Katakan kepadanya bahwa kakakmu mengatakan,  “Allah-lah yang akan menggantikanku mengurusmu.”
Abu Qudamah melanjutkan, “Kemudian bocah itu berusaha menguatkan  dirinya, namun napasnya mulai sesak dan bicaranya tak jelas. Ia berusaha  kedua kalinya untuk menguatkan dirinya dan berkata,
“Paman.. demi Allah, mimpi itu benar.. mimpi itu sekarang menjadi  kenyataan. Demi Allah, saat ini aku benar-benar sedang melihat  al-Mardhiyyah dan mencium bau wanginya.”
Lalu bocah itu mulai sekarat, dahinya berkeringat, napasnya tersengal-sengal dan kemudian wafat di pangkuanku.”
Abu Qudamah berkata, “Maka kulepaslah pakaiannya yang berlumuran  darah, lalu kuletakkan dalam sebuah kantong, kemudian kukebumikan dia. Usai mengebumikannya, keinginan terbesarku ialah segera kembali ke  Raqqah dan menyampaikan pesannya kepada ibunya.
Maka aku pun kembali ke Raqqah. Aku tak tahu siapa nama ibunya dan di mana rumah mereka.

Tatkala aku menyusuri jalan-jalan di Raqqah, tampak olehku sebuah  rumah. Di depan rumah itu ada gadis kecil berumur sembilan tahun yang  berdiri menunggu kedatangan seseorang. Ia melihat-lihat setiap orang  yang berlalu di depannya. Tiap kali melihat orang yang baru datang dari  bepergian ia bertanya,
“Paman.. Anda datang dari mana?”
“Aku datang dari jihad,” kata lelaki itu.
“Kalau begitu kakakku ada bersamamu..?” tanyanya.
“Aku tak kenal, siapa kakakmu..?” kata lelaki itu sambil berlalu.
Lalu lewatlah orang kedua, dan tanyanya,
“Akhi.. Anda datang dari mana?”
“Aku datang dari jihad,” jawabnya.
“Kakakku ada bersamamu..?” tanya gadis itu.
“Aku tak kenal siapa kakakmu,” jawabnya sambil berlalu.
Lalu lewatlah orang ketiga, keempat dan demikian seterusnya. Lalu  setelah putus asa menanyakan saudaranya, gadis itu menangis sambil  tertunduk dan berkata,
“Mengapa mereka semua kembali tapi kakakku tak kunjung kembali?”

Melihat ia seperti itu, aku pun datang menghampirinya. Ketika ia  melihat bekas-bekas safar padaku dan kantong yang kubawa, ia bertanya,
“Paman.. Anda datang dari mana?”
“Aku datang dari jihad,” jawabku.
“Kalau begitu kakakku ada bersamamu?” tanyanya.
“Dimanakah ibumu?” tanyaku.
“Ibu ada di dalam rumah,” jawabnya.
“Sampaikan kepadanya agar ia keluar menemuiku,” perintahku kepadanya.

Ketika perempuan tua itu keluar, ia menemuiku dengan wajah tertutup  gaunnya. Ketika aku mendengar suaranya dan ia mendengar suaraku, ia  bertanya,
“Hai Abu Qudamah, engkau datang hendak berbela sungkawa atau memberi kabar gembira?”
Maka tanyaku, “Semoga Allah merahmatimu. Jelaskan kepadaku apa yang kau maksud dengan bela sungkawa dan kabar gembira itu?”

“Jika engkau hendak mengatakan bahwa anakku telah gugur di jalan  Allah, dalam keadaan maju dan pantang mundur berarti engkau datang  membawa kabar gembira untukku, karena Allah telah menerima hadiahku yang  telah kusiapkan untuk-Nya sejak tujuh belas tahun silam.
Namun jika engkau hendak mengatakan bahwa anakku kembali dengan  selamat dan membawa ghanimah, berarti engkau datang untuk berbela  sungkawa kepadaku, karena Allah belum berkenan menerima hadiah yang  kupersembahkan untuk-Nya,” jelas si perempuan tua.

Maka kataku, “Kalau begitu aku datang membawa kabar gembira untukmu.  Sesungguhnya anakmu telah terbunuh fisabilillah dalam keadaan maju dan  pantang mundur. Ia bahkan masih menyisakan sedikit kebaikan, dan Allah  berkenan untuk mengambil sebagian darahnya hingga ia ridha.”
“Tidak, kurasa engkau tidak berkata jujur,” kata si ibu sembari  melirik kepada kantong yang kubawa, sedang puterinya menatapku dengan  seksama.
Maka kukeluarkanlah isi kantong tersebut, kutunjukkan kepadanya pakaian puteranya yang berlumuran darah.
Nampak serpihan wajah anaknya berjatuhan dari kain itu, diikuti tetesan darah yang tercampur beberapa helai rambutnya.
“Bukankah ini adalah pakaiannya.. dan ini surbannya.. lalu ini  gamisnya yang kau kenakan pada anakmu sewaktu berangkat jihad..?”  kataku.
“Allahu Akbar..!!” teriak si ibu kegirangan.
Adapun gadis kecil tadi, ia justru berteriak histeris lalu jatuh  terkulai tak sadarkan diri. Tak lama kemudian ia mulai merintih,  “Aakh..! aakh..!”
Sang ibu merasa cemas, ia bergegas masuk ke dalam mengambil air  untuk puterinya, sedang aku duduk di samping kepalanya, mengguyurkan air  kepadanya.
Demi Allah, ia tak sedang merintih.. ia tak sedang memanggil-manggil  kakaknya. Akan tetapi ia sedang sekarat!! Napasnya semakin berat..  dadanya kembang kempis.. lalu perlahan rintihannya terhenti. Ya, gadis  itu telah tiada.
Setelah puterinya tiada, ia mendekapnya lalu membawanya ke dalam  rumah dan menutup pintu di hadapanku. Namun sayup-sayup terdengar suara  dari dalam,
“Ya Allah, aku telah merelakan kepergian suamiku, saudaraku, dan  anakku di jalan-Mu. Ya Allah, kuharap Engkau meridhaiku dan mengumpulkan  bersama mereka di jannah-Mu.”

Abu Qudamah berkata, “Maka kuketuk pintu rumahnya dengan harapan ia  akan membukakan. Aku ingin memberinya sejumlah uang, atau menceritakan  kepada orang-orang tentang kesabarannya hingga kisahnya menjadi teladan.  Akan tetapi sungguh, ia tak membukakanku maupun menjawab seruanku.

“Sungguh demi Allah, tak pernah kualami kejadian yang lebih menakjubkan dari ini,” kata Abu Qudamah mengakhiri kisahnya.

Lihatlah bagaimana si ibu mengorbankan segala yang ia miliki demi  menggapai kebahagiaan ukhrawi. Ia perintahkan anaknya untuk berjihad  fisablillah demi keridhaan Ilahi. Maka bagaimanakah nasib para pemalas  seperti kita. Apa yang telah kita korbankan demi keridhaan-Nya?”

(Sumber: Terjemahan ceramah Syaikh DR. Muhammad al-‘Arifi yang berjudul al-Musytaquna ilal Jannah dengan sedikit penyesuaian)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar